Tautan Renyah Dirgaa

Reviews

Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ismail F. Alatas
Judul: Renungan Seorang Pemuda Muslim Di Tengah Kemurungan
Penulis: Ismail F. Alatas
Penerbit: Teraju (Mizan)
Tebal: xiv+206

Di tengah kemurungan ummat Islam hari ini karena timpaan berbagai permasalahan dari mulai kemunduran ummat hingga hubungan Islam dan dunia barat banyak pihak yang telah melakukan ijtihad untuk mencoba menyikapinya dengan caranya masing-masing dan Ismail Alatas menempuh jalan pena untuk menuangkan segenap pikirannya mengenai berbagai permasalahan (makro) ummat yang mengusiknya. Kita patut kagum atas keluasan berpikir pemuda yang belum genap berusia 25 tahun ini (lahir 1983), kagum atas ketenangan dan kemantapannya dalam menuangkan pikirannya di tengah kecamuk emosi ummat ini. Tentu pemikiran-pemiirannya sangat debatable, memungkinkan pendapat-pendapat lain. Sayapun mengakui dalam beberapa hal saya tidak bersepakat dengan pikirannya, namun itu tidak menghalangi saya untuk tetap mengapresiasi apa yang telah dia uraikan.

Tiga Pokok Besar

Secara garis besar, Ismail Alatas membagi pemikirannya dalam 3 hal besar pada bukunya ini, meliputi: Aku Dan Tradisi, yang mencoba mengupas problematika kontemporer dunia Islam, Aku Dan Dunia Barat yang berisi pendapatnya mengenai Islam dan dunia barat serta Aku Dan Kehidupan Manusia: O, Palestina, yang secara khusus menguraikan keprihatinan dan curah pikirannya mengenai permasalahan Palestina. Dalam pembahasan mengenai problematika kontemporer dunia Islam, saya menangkap empat hal pokok yang menjadi perhatiannya, yakni mengenai piagam Madinah sebagai sebuah kontrak sosial, kemunduran dan kebangkitan Islam, radikalisme serta permasalahan feminisme.

Dalam pembahasannya mengenai Piagam Madinah, Ismail Alatas bersepakat bahwa Piagam Madinah adalah sebuah tata negara dasar yang begitu humanis dan pluralis. Namun dia sangat menyayangkan anggapan bahwa Piagam Madinah adalah sebuah dokumen keagamaan berdasarkan asumsi bahwa semua yang dilakukan oleh Sang Nabi didasari oleh inspirasi Illahi. Ismail lebih menganggapnya sebagai sebuah kontrak sosial, hasil dari sebuah musyawarah dan kompromi para pemuka masyarakat yang mewakili seluruh lapisan pada waktu itu. Sehingga dia menganggap kurang tepat jika Piagam Madinah hendak diterapkan an sich tanpa ada sebuah "revitalisasi" yang disesuaikan dengan konteks zaman. Dalam hal ini dia sependapat dengan apa yang pernah disampaikan oleh Ulil Abshar Abdalla.

"Gerakan-gerakan ini, seperti Salafiyyah, Ikhwan Al-Muslim, dan Jama'at Al-Islami, bercokol di tepi perkembangan dunia yang pesat. Mereka semua bermula dari negara-negara yang sedang mengalami penjajahan sehingga posisi mereka menjadi marginal. Pembaharu-pembaharu Islam seperti Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb mempunyai pemahaman yang terbatas akan dunia kontemporer. Mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang power representation, knowledge structure, division of labor, dan lain-lain. Sehingga, terkadang tulisan-tulisan mereka agak dangkal pada saat membahas keadaan dunia dewasa ini." (hal 41)



Terkait kemunduran ummat, Ismail berpendapat bahwa hal ini adalah warisan dari kegagalan gerakan reformis Islam. Kaum reformis yang lahir dari posisi marginal (tengah mengalami penjajahan) mempunyai pemahaman yang terbatas mengenai dunia kontemporer, sehingga pemikiran mereka akan terasa agak dangkal pada saat membahas dunia saat ini. Penggambaran dunia barat yang dilihat dari kacamata orang terjajah hanya menimbulkan kebencian yang berlebihan terhadap dunia barat yang sangat asing bagi mereka dan patut disayangkan pemikiran-pemikiran ini masih digunakan sebagai rujukan oleh revivalis Islam dewasa ini. Ismail mensolusikan bahwa penting untuk dilakukan dialog Timur dan Barat yang intensif untuk mencoba saling memahami. Sehingga tidak mengejutkan jika dalam pemikiran berikutnya Ismail berkeyakinan bahwa kebangkitan Islam akan lahir dari Barat, angin akan bersemilir dari New York, London dan Sydney(?). Dari kota-kota tersebutlah akan lahir pemikir yang mengerti secara mendalam mengenai pemikiran dan kondisi Barat yang realistis karena mereka hidup di negara tersebut. Mereka adalah generasi kedua/ketiga dari migran (muslim) yang datang ke negara Barat.

Dalam hal radikalisme umat, Ismail berpandangan bahwa radikalisasi dalam tubuh ummat betul-betul terjadi dewasa ini. Hal ini disebabkan seringnya ummat dihadapkan dengan teori konspirasi (dalam hal ini antara gerakan salibis dan zionis guna menghancurkan agama Allah) dibandingkan dengan teori instrospeksi, ummat disodorkan untuk lebih suka menyalahkan pihak lain dibandingkan introspeksi. Semakin lama, ajaran agama yang asli semakin tertutupi oleh fundamentalisme dan ummat Islam sendiri yang dapat mengubah image ini di mata dunia Barat. Sementara terkait masalah "pembebasan" wanita (feminisme), meski mengutip panjang pemikiran Qasim Amin (1865-1908) yang sering disebut-sebut sebagai seorang yang memulai gerakan feminisme di Timur Tengah, Ismail nampaknya sangat berhati-hati untuk mengeluarkan pikirannya dan hanya menelurkan konklusi yang sangat diplomatis, "permasalahan wanita di Timur Tengah tetap masih memerlukan orang-orang progresif yang mau mengorbankan hidup mereka untuk berjalan di atas jalan berliku dan berkerikil tajam, demi pembebasan wanita" (hal 69)

Mentalitas Americana

Dalam bab yang mengurai pandangannya mengenai dunia Barat, satu hal yang paling menarik adalah pembahasan mengenai mentalitas over confident dan tumpul kepekaan yang tumbuh pada warga Amerika yang dia istilahkan sebagai mentalitas Americana. Mengutip Thompson, mentalitas ini lahir dikarenakan tiga hal, yakni: letak geografis AS yang jauh dari Eropa dan Asia, terbentengi dua samudera besar, di tambah propaganda media yang begitu hebat dan omong kosong para politisinya. AS belum pernah mendapat serangan, serangan terhebat yang didapat hanya berhenti sampai Hawaii (Pearl Harbor), sehingga senantiasa merasa bahwa perang hanya terjadi di "sebelah sana", menyebabkan tidak sungkan untuk menjatuhkan bom disana-sini guna mengehnatikan beberapa masalah kecil. Sebagian di Irak dan Afghanistan, sedikit di Sudan dan Kosovo dan kehidupan warga Amerika tetap berjalan seperti biasa. Mentalitas ini sedikit berubah setelah peristiwa 911, namun tidak berlangsung lama. Lagi-lagi dikarenakan propaganda media dan omong kosong para politisinya. Dan hari ini, keangkuhan kebijakan luar negeri AS yang dilandasi oleh mentalitas ini mulai mendapat perlawanan, baik internal maupun eksternal. Perlawanan yang dipengaruhi oleh bebasnya arus informasi. Orang tidak lagi hanya menjadikan CNN sebagai acuan, namun terdapat Al Jazeera sebagai other opinion maker. Dan Ismail berharap, mudah-mudahan segenap perlawanan ini dapat mengakhiri mentalitas Americana demi sebuah tatanan dunia yang lebih baik.

Tradisi Yang Diciptakan

Terkait permasalahan Palestina dan Israel, Ismail mengutarakan dua hal pokok yang bisa saya tangkap. Pertama, dia berpandangan bahwa Israel adalah sebuah tradisi yang diciptakan dan tidak mempunyai tempat khusus dalam perjalanan panjang Yahudi. Tradisi yang sengaja diciptakan untuk menyatukan sebuah bangsa. Ismail membedakan antara anti Israel dan anti Yahudi (anti semitic). Ismail adalah seorang yang anti Israel, namun dia tidak anti Yahudi. Dia menolak keras keberadaan Israel sebagai sebuah negara yang beradasarkan suku bangsa dan bersistem Apartheid. Dalam pandangannya mengenai Peta Jalan Damai, dia juga mengungkapkan pesimisme dan penolakannya. Bagaimana disebut sebagai sebuah peta jalan damai, jika didalamnya terdapat klausul pelarangan penduduk Palestina untuk kembali ke tanah airnya (hal 143). Sungguh sesuatu yang tidak adil menurut pandangannya. Sehingga dia mengusulkan yang seharusnya terjadi adalah satu negara sekular demokratik di Palestina, di mana bangsa Yahudi dan Arab dapat hidup berdampingan. Dia mengakui bahwa usulannya ini mungkin tidak masuk akal, namun kita tetap harus optimis.

Para Guru

Dari tulisan-tulisannya, secara implisit Ismail banyak terpengaruh oleh pemikiran reformis moderat Islam semacam Jalamudin Al Afghani, Muhammad Abduh, Syaikh Mahmud Muhammad Thaha, Ziauddin Sardar, Edward Said, dan semacamnya. Namun yang paling dia kagumi nampaknya adalah Edwar W Said, sampai-sampai dia menuliskan artikel tersendiri mengenainya ketika Edward Said meninggal dalam Elegi Untuk Sang Guru (hal 117). Edward Said adalah seorang Amerika kelahiran Palestina. Pikirannya yang terkenal adalah teori orientalisme yang mengungkapkan betapa persepsi Barat terhadap Timur sesungguhnya didasari oleh ambisi imperialisme.

"Orientalisme adalah gaya dunia barat untuk menguasai dan mengubah struktur, dan mendapatkan kewibawaan atas dunia Timur." (Said, hal 119)



Secara keseluruhan adalah menarik menyimak pemikiran Ismail Alatas, meski tidak semuanya adalah hal yang (sangat) baru. Dalam beberapa hal, Ismail nampak terlalu menyederhanakan masalah. Klausulnya untuk melakukan dialog yang lebih intensif antara Timur dan Barat untuk memajukan ummat nampak terlalu sederhana dan naif dalam pandangan saya karena seolah dialog saja cukup, padahal tidak. Pun dengan pemikirannya mengenai radikalisme dalam tubuh ummat. Dalam pandangan saya, radikalisme ini (kalau benar ada) tumbuh oleh keterdesakan dan pemojokan yang dilakukan Barat terhadap Islam. Sehingga meminta ummat Islam saja untuk melakukan introspeksi tanpa meminta hal yang sama terhadap Barat nampaknya tidak akan menghasilkan apapun. Kedua belah pihak harus mampu menahan diri dalam kaidah semestinya. Usulannya mengenai negara sekular demokratik Palestina juga nampak sebagai usulan yang "putus asa" terhadap permasalahan Palestina, meski dia sendiri sudah mengakui bahwa usulannya mungkin tidak masuk akal.


ReviewReviewReviewReviewPrajurit Prajurit SalaminaAug 30, '05 6:03 AM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:Javier Cercas
Judul Buku: Prajurit Prajurit Salamina
Penulis: Javier Cercas
Penerbit: Serambi, Mei 2005
Tebal: 304
Saya temukan di: TB. Walisongo

Kesan pertama ketika awal saya membaca buku ini adalah membosankan, agak terengah-engah mencoba mengikuti ritme novel berlatar sejarah ini. Terlalu banyak nama yang terlibat dan cepatnya perubahan setting latar, bergerak terus dari satu plot ke plot lain. Beruntung Javier menuliskannya dengan gaya bahasa yang masih cukup menarik, didukung proses penerjemehan yang bagus menjadikan saya mencoba menahan kesabaran untuk membacanya pelan-pelan dan berulang pada beberapa bagian.

Novel berlatar sejarah perang saudara di Spanyol ini memang secara khusus mengetengahkah tentang secuil nukilan perjalanan hidup Rafael Sanches Mazas, seorang fasis dan pendiri falangis Spanyol yang ikut terlibat dalam perang saudara antar kekuatan Frente Nacionales (fasis, katolik) dan Frente Popular (republik demokrat). Sanches Mazas berada di belakang Nacionales. Sanches Mazas juga dikenal sebagai seorang penulis ternama di Spanyol.

Yang coba diketengahkan oleh Javier adalah keterlibatan Sanches Mazas dalam perang saudara yang terjadi selama tahun 1936-1939 tersebut. Javier secara khusus menyoroti sebuah adegan ketika Sanches Mazas tertangkap oleh pasukan Republik dan dijebloskan di Camp Penahanan yang bekas biara, Santa Maria del Collell. Ketika hendak dieksekusi mati, Sanches Mazas berkesempatan melarikan diri. Dan ketika tertangkap kembali oleh seorang prajurit Republik, ketika senjata telah terkokang dan mata bertemu pandang, prajurit Republik ini malah membiarkan Sanches Mazas bebas. Keterlibatan Sanches Mazas dan adegan ini begitu terkenal setelah perang saudara usai karena Sanches Mazas menjadi seorang menteri dalam pemerintahan koalisi yang unik.

Apa yang diketengahkan Javier mengenai keterlibatan Sanches Mazas dalam perang saudara tersebut memang menarik. Dia menguraikannya dalam bab kedua, Prajurit Prajurit Salamina, dari tiga bab yang ada. Sahabat Sahabat Rimba di bab pertama dan Rendesvouz Di Stockton pada bab ketiga. Javier menuliskan novelnya dari sisi pandang "aku". Itulah yang membuat novel ini lebih menarik karena saya lebih menangkap proses investigasi si Javier sebagai seorang wartawan yang mencoba menulis novel berlandas kisah nyata. Proses investigasi yang dituliskan secara beruntun elegan dan juga cukup jenaka menurut saya. Pada bab pertama, Javier mencoba membangun rangkaian cerita yang hendak dia buat mengenai Sanches Mazas tersebut. Pada bab kedua, dia menuliskan kisah si Sanches tersebut. Dan pada bab ketiga, dia meneruskan curiousitynya dengan mencoba mencari siapa sesungguhnya prajurit Republik yang membiarkan Sanches Mazas lari (bukan malah menembaknya), mencari tahu apa yang ada di benak prajurit tersebut ketika melakukan hal tersebut. Semuanya dirangkum menarik oleh Javier.

Bagi orang yang awam terhadap sejarah Spanyol (seperti saya) memang bakalan cukup terengah-engah membaca novel ini, untunglah ada sedikit catatan penerjemah mengenai sejarah Spanyol ini. Pada akhirnya saya merasa beruntung karena cukup bersabar untuk meneruskan membaca novel yang pada awalnya terasa membosankan ini sampai akhir. Cukup gurihlah, mengutip istilah si Perca.


ReviewReviewReviewReviewChip Foto - VideoAug 1, '05 2:11 AM
for everyone
Category:Other
Jagoannya masih si Hengky, rekan satu departemen yang juga punya sampingan sebagai "penguasa" Mall Mangga Dua. Dia punya sebuah toko elektronik disana.
Pekan lalu dia bawain sebuah majalah, "baca nih" katanya. Majalah Chip Foto - Video edisi ke 4 (April 2005), o ada tho Heng? Pas sekali dengan rasa curiosity yang mendera mengenai dunia fotografi. Pagi ini kembali dia bawain majalah Chip Foto - Video edisi ke 5 (Mei 2005). Terima kasih Heng.

Kalau saja si Hengky gak bawain ni majalah, saya pasti gak akan tahu kalau majalah tersebut ada. Pertama, karena kelihatannya belum lama terbit (baru masuk edisi 5 atau 6) dan kedua, kelihatannya memang agak sulit nyarinya. Si Hengky saja kesulitan nemuin edisi ke 5 ini di daerah Mangga Dua sana.

Harga banderolnya Rp.29.800. Terbit bulanan. Dapat CD tiap kali penerbitan, tidak beda jauh dengan Chip yang komputer. Isinya (sangat) menarik buat pemula amatiran seperti saya. Ada review product, photo of the month, workshop, tips, pengolahan digital, daftar harga, etc.

Edisi 4 yang lalu, membahas mengenai DSLR buat pemula, ada workshop mengenai fotografi infra red (jadi terpikir buat beli filter IR). Edisi ke 5 ini membahas mengenai berbagi lensa buat DSLR (Nikon D70 ama Canon 300D), workshopnya mengenai berkreasi dengan shutter speed. Tipsnya berjibun euy...:) CDnya juga kerapkali memuat movie tutorial interaktif.

Saya rekomendasikan majalah satu ini buat pemula yang berkeinginan mengerti mengenai dunia fotografi secara lebih serius, mengenai dunia perfotografian Indonesia. Harganya memang agak mahal, cuma sebandinglah dengan isinya menurut saya.

Keputusan akhir tentu terserah Anda tho?


ReviewReviewReviewAntologi Cerpen NobelJun 6, '05 12:29 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Bjornstjerne Bjornson, et.al
Judul Buku: Antologi Cerpen Nobel
Penulis: Bjornstjerne Bjornson, et.al
Penerbit: Bentang
Tebal: xxiv + 371
Saya temukan di: TB. Kharisma Hero Kemang

Meski dinamakan Antologi Cerpen Nobel, tidak berarti bahwa cerpen-cerpen yang dimuat didalamnya adalah cerpen yang membuat penulisnya meraih nobel. Karena seorang sastrawan (atau sastrawati) dipilih untuk meraih nobel bukan sekedar berdasarkan cerpen, namun karena konsistensinya dalam pengembangan dunia sastra (literatur), meski karya-karya menjadi faktor dominan, ditambah dengan (sedikit) pertimbangan politik tentunya.

maap,
baca lanjutannya di:
http://dhika.batikkejora.com/more.php?id=30_0_1_0_M


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help