
"Q! Film Festival is the only gay and lesbian film festival in a predominantly Moslem country. We never really know for how long we can do the festival with all the contasraints we have. Enjoy the festival while it's still there for you!" (John Badalu - Director)
Seperti biasa, Jum'at malam saya bertemu kawan-kawan di Goethe. Semalam Goethe nampak agak ramai, biasalah saya pikir, banyak pengunjung karena pas kebetulan ada Pameran HAM kerja bareng kedubes Swiss. Awalan saya tak begitu peduli, namun kelamaan saya perhatikan pengunjung-pengunjung yang datang agak "aneh". Ya penampilan, ya tingkah laku. Mbak penjaga kantin mengatakan bahwa pengunjung yang datang malam ini kebanyakan homoseksual. Hey, ada apa nih??
Rasa penasaran memaksa saya masuk kedalam, mendekati kerumunan pengunjung "aneh" tersebut dan mencoba mencari tahu. Dan akhirnya saya menemukan dan mengambil buklet di pintu masuk depan yang bercerita mengenai acara malam itu, meski sempat ditanyain mengenai undangannya oleh si penerima tamu. Ternyata semalam adalah pemutaran perdana film-film Q! Film Festival. Dan kalimat yang saya kutip diatas adalah kalimat Intro yang disampaikan oleh John Badalu dalam buklet yang saya ambil semalam. John Badalu sendiri adalah direktur dari Q-Munity, penggagas dari festival film tersebut. Buklet tersebut juga memuat sinopsis dari film-film yang bakalan ditayangkan dalam festival tersebut. Dan membayangkan adegan yang bakal ditampilkan dalam film tersebut berdasar sinopsis yang diuraikan adalah sesuatu hal yang tidak tergapai oleh saya, jibang.
Gay, lesbian, homoseksualitas adalah sebuah realitas yang agaknya sulit untuk dipungkiri hari ini. Ianya adalah sebentuk kebebasan berekspresi dan kebebasan menentukan pilihan seru mereka. Sebentuk kebebasan yang bersandar pada rasionalitas palsu dan nafsu an sich. Dan ternyata realitas itu makin mendekat dalam kehidupan kita. Namun tidak pula saya habis berpikir, apakah pelajaran sejarah (kisah kaum Luth) itu tidak cukup bagi mereka? Tidak cukupkah, sekedar sebagai masukan bahwa tata kehidupan ini tidak berhenti pada tataran dimensi rasionalitas dan nafsu belaka. Terdapat dimensi tautan, dimensi sebab akibat yang sudah semestinya menyadarkan bahwa tiap pilihan akan menghadirkan sebuah akibat lain, akibat yang tidak hanya berdampak pada pemilihnya namun berdampak pada entitas manusia seluruhnya, seutuhnya. Ataukah mereka memang tengah menantang Sang Penguasa untuk kembali mendatangkan adzabNya demi sebuah pembuktian dan pelajaran?
Allahu Ya Rabbi....hambaMu ini hanya mampu beristighfar....
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS Al A'raf:81)

Hari ini ada acara donor darah bersama lima perusahaan (Aviva,
McKinsey, Pfizer, ExxonMobil, Coca-Cola) beserta manajemen gedung
(Mulia Grup). Pengambilan darah dilakukan di sebuah ruangan di lobby
lantai 2. Peminatnya uakeh tenan, ngantrinya panjang. Saya daftar jam
9.30an pagi dan baru diambil darah sekitar 13.30an. Ini adalah
pengalaman pertama saya donor darah (keterlaluan ya), agak deg-degan.
Alhamdulillah diambil darah ama ibu yang sudah cukup berumur, saya
yakin jam terbangnya sudah cukup tinggi sehingga pasti gape waktu
nusukin jarum. Seharusnya saya bisa menyumbang sekitar 350cc, cuma
karena kehabisan kantong 350cc, ya cukup 250cc. Selekas donor disedian
makan: mie, telor rebus ama susu. Dan ini yang menarik, di pintu keluar
sudah menunggu suvenir buat pendonor. Sebuah tas jinjing besar warna
merah, mau tahu isinya?
Sekotak kue, Frestea, Ades, Topi Aviva, Kaos Pfizer, Gantungan Kunci
ExxonMobil, Wristband Pfizer Peduli, Pulpen dan Notebook Pfizer serta
berbagai lembar info kesehatan. Hhhmm...coba di PMI ada suvenir seperti
ini, insyaAllah pendonor pasti lebih bersemangat tho?...:) Subhanallahu
walhamdulillah.

Dalam perbincangan dengan seorang kawan lama semasa SMA dulu yang
sekarang sudah menyandang gelar sarjana hukum dari PTN di daerah Jawa
Tengah sana dan sekarang lagi mencoba mangkal di sebuah LSM di Jakarta
sampailah diskusi pada bab pemberantasan korupsi. Berbincang dengan
kawan satu ini memang seru, lucu lan ngangeni...
"Korupsi di Indonesia emang sudah gendheng tenan ki" ujarnya....
"Lho, awakmu kok baru nyadar tho kang?"
"Padahal gampang wae numpas korupsi ki.."
" Yen aku dedi Yudhoyono, saya hidupkan lagi petrus kae, kita petrus saja koruptor-koruptor itu, ben mati sisan" lanjutnya.
" Yo gak iso ngono tho, petrus kan pelanggaran HAM berat" seloroh saya dengan nada guyonan.
" Lho saiki ngene dhik,
korupsikan katanya sulit dibuktiin, harus pakai acara jebakan segala,
prosesnya makan waktu lama, berbelit, barang buktinya sudah menghilang
entah kemana..."
"Hhmm..." simak saya.
"Tiba-tiba masalah dianggap selesai kalau kerugian negara, uang hasil korupsi dibalikin, yo maneh kalau ada permainan ama orang pengadilan, ribet tenan tho..."
"Hhmm..." saya masih berdehem saja.
" Yen awakmu ngomong pelanggaran HAM berat, kamu pikir korupsi itu apa? Sak abot-abote pelanggaran HAM ya korupsi dhik!"
"BBM naik, rakyat kere
busung lapar, hutan digunduli, laut dikuras, gunung dibongkar, banjir
dimana-mana; ini semua kamu nilai apa dhik?" terusnya bersemangat.
"Hhmm...." saya tak berkehendak memotong karena bisa panjang urusan.
"Korupsi juga bikin moral makin gak genah. anak pejabat petentang-petenteng numpak bronpit gedhe, kesana kesini naik mobil mewah peteta-petete, padahal anak tetangganya pada bunuh diri karena gak kuat ejekan teman sekolahnya lantaran belum bayaran sekolah."
" Wong gawe dzolim gak isin-isin maneh, orang baik-baik mau jadi walikota saja diploro mrono-mrene, deloken kasus Depok kae....terus piye? Di petrus saja sebenarnya gak cukup dhik."
"Omongan awakmu yo gak salah sih kang, terus gimana menentukan siapa yang harus dipetrus?" tanya saya.
" Gampang wae dhik, pejabat yang kira-kira kekayaannya gak wajar ya dipetrus saja".
"Lha kalo salah orang gimana kang?"
"Salah-salah sitik yo gak masalah tho dhik, revolusi kan perlu pengorbanan tho? Risiko perjuangan...." jawabnya santai.
" Tak rasan-rasani kok jadi awakmu yang ikut gendheng tho kang?"
"Tapi saya jadi mikir hal lain kalau petrus benar-benar dilakukan dhik."
" Ngopo maneh?" selidik saya.
" Meh
dikubur dimana koruptor yang kena petrus, kuburan yang ada pasti gak
bakalan muat karena saya perkirakan sebagian besar pejabat negeri ini
bakalan kena petrus"
"Ealah kang....kang....!#@$%!"
*petrus = proses pemberantasan preman pada tahun 70an yang menembak
mati para preman tanpa ada pengadilan. diceritakan, jalanan penuh
dengan mayat berdarah karena maraknya petrus ini.
pekat asap tinggi membumbung hitam menyelimuti ada apa gerangan?
mayat berserakan meranggas api dalam ruang bergelimpangan tak karuan
cekam membalut cemas sayat sembilu tertinggal galau air mata kepasrahan
tragedi nan tak terelakkan kepapaan...
Pekayon bumi Allah, 06.09.2005
"Anak kami masuk icu pjt rscm, mohon doa smga cepet sembuh(roni+leli)"
SMS tersebut masuk ke inbox saya Kamis petang lalu. Tak begitu lama,
sayapun mencoba menelponnya. Dengan nada gusar Roni, seorang sahabat
baik sedari SMA, bercerita mengenai kondisi anaknya. Ada kebocoran klep
jantung, tutur dia waktu itu. Ah, tak terbayang dalam pikiran, Haris
anak pertamanya yang belum genap setahun itu harus berjuang bertahan
hidup dengan kondisi demikian.
Petang tadi, sehabis berkunjung ke seorang sahabat
di Bogor, saya menyempatkan diri mampir ke RSCM untuk menengok si Haris
di ruang ICU anak. Dari balik kaca pengunjung, nampak dadanya naik
turun berusaha mempertahankan nafasnya dengan bantuan pipa yang
terjulur kesana kemari, dalam kondisi yang pias tenang karena morfin.
"Agar gak terlalu banyak gerak", cerita Roni.
Ternyata tidak hanya kebocoran klep jantung yang diderita Haris, namun
juga infeksi paru-paru yang efek infeksinya sudah menjalar ke seluruh
tubuh. Agak lama saya di RSCM malam tadi, sekedar mencoba menjadi
pendengar yang baik atas tumpahan kegusaran dan kekesalan (atas
pelayanan RSCM) Roni dan istrinya. Berulang kali dia meminta didoakan
agar Allah menetapkan yang terbaik., melekaskan kesembuhan Haris
Sekitar jam 21.40an saya telah sampai di rumah. Selang tak berapa lama,
HP berbunyi, telepon dari Roni. Dengan suara yang agak tertahan, dia
mengabarkan bahwa anaknya telah meninggal dunia dan meminta saya untuk
mengabarkannya ke teman-teman SMA yang lain. Inna lillahi wa inna
'ilayhi rooji'uun. Begitu cepat waktu Engkau perputarkan, begitu tak
ada kuasa lain jika Engkau telah berkehendak.
Makin tersadar betapa semua hanyalah titipan Allah. Amanah anak, harta,
posisi, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya pasti akan Allah
perputarkan dan Allah ambil pada waktunya nanti, apapun itu. Adalah hak
hamba sepenuhnya untuk mempunyai keinginan, merencanakan sesuatu,
bercita-cita, menyandarkan harapan dan lain sebagainya. Namun, hak
Allah sepenuhnya pula untuk kemudian yang menentukan. Dan jika
keinginan, cita-cita dan harapan tersebut tidak berpapasan dengan
kehendak Allah, maka yakinlah bahwa Allah lebih Maha Mengetahui
segalanya. Setiap kejadian telah tertulis dalam lauhul mahfudz. Jika yang kita damba tidak terdekap, kenapa pula harus meratap jika memang sesungguhnya ia bukan hak kita.
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah
mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Al Hadiid: 22-23)
Buat Roni dan Leli, cukupkan ketabahan dan pasrahkan semuanya pada yang
Maha Berkehendak, semoga ujian yang menimpa menjadi bekal amal kebaikan
bagi kalian berdua.
Gak ada angin gak ada petir (apa hubungannya coba?...), Jumat malam
lalu tiba-tiba kakak menghibahkan (baca: diminta memelihara) kamera SLR
Canon T70 beserta 2 lensa, Canon FD Lens 50mm 1:18 ama Canon Zoom Lens
FD 100-200mm 1:5.6. Kamera manual yang dia dapat dari temannya, Wawin
Pahlevi.
Tampilan sih menarik. Nampaknya perlu diservis dulu nih, masih bisa
dipakai apa gak? Kalaupun bisa dipakai, belum terpikir buat memakainya
kecuali buat jadi pajangan di lemari...:) Ada yang punya ide?
Update:
Setelah nanya mas Google, ni kamera lahir pada tahun 1984, hampir sebaya nih....:)
Sudah coba donlod manualnya, hhhmm.....sudah usang bener hasil scan kertasnya.....
http://dhika.batikkejora.com
tiada perlu gulana dalam tabula
karena semua lekang; fana...
biar tumpah derai air mata,
perih nganga luka,
apatah arti semua
jika surga janji bagi jiwa
terus saja melangkah
dan biarkan desah
terlingkup ronaNya
09.08.2005
http://dhika.batikkejora.com

Berikut gambaran jalur transportasi massal yang bakalan beredar di
Jakarta dan sekitarnya, target sampai 2020. Masalah validitas, saya
bukan pihak yang berwenang untuk menjawabnya.
Btw, apakah rumah kalian terlewati oleh jalur tersebut?
Gambar lebih besar klik sini

Berkesempatan pulang ke Pekalongan selama 3 hari akhir pekan lalu ada satu tempat yang masuk daftar tempat wajib dikunjungi, a must visited site, dalam list agenda kegiatan saya. Saya sendiri juga heran, orang rencananya liburan buat rehat begini masih sempet-sempetnya bikin daftar agenda kegiatan. Tapi tempat ini memang spesial, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) SAHARA namanya.

Resmi berdiri tanggal 8 November akhir tahun lalu, hanya menggunakan
dinding kayu dan bambu yang mengambil tempat di halaman sebuah rumah.
Merupakan satu-satunya taman bacaan yang ada di Pekajangan, kampung
kelahiran saya. Dengan niatan awal sekedar menghadirkan tempat buat
berkumpul dan membaca. Mengumpulkan majalah dan buku bekas dari
masyarakat sekitar untuk bisa dijadikan bahan bacaan bagi pemuda dan
anak-anak di sekitaran. Sederhana sekali bukan?
Dulu waktu pertama berdiri, dindingnya belum penuh, kalau hujan jadi
seru. Koleksinya juga cuma ada koleksi majalah-majalah lama semacam
Panji Masyarakat, Intisari, Bobo (edisi lama buanget), Suara
Muhammadiyah dan beberapa buku lawas sumbangan kawan-kawan yang lain.
Paling laris adalah buku Kupinang Engkau Dengan Hamdalah karya Mas
Faudzil Adhim sumbangan seorang kawan. Saya jadi terkekeh kalau
diceritain ama si Hafiizh, yang ngelola. He...he...he...
Sekarang, alhamdulillah, dinding sudah lengkap mengelilingi, tak perlu
khawatir lagi kalau hujan. Nampaknya koleksinya jauh lebih layak untuk
dibaca, lebih manusiawilah. Beberapa bantuan telah singgah. Ada infaq
dari Kelurahan, sumbangan buku dari Yayasan Bunda Yessy, sumbangan dari
penerbit Qisthi ditambah sumbangan majalah dari beberapa kawan dan
masyarakat sekitar. Jadi tidak lagi melulu majalah Panjimas yang sudah
kusam itu. He..he..he...
Adalah M. Hafiizh, temen sekampung, sahabat akrab sedari
SMP meski beda angkatan (setahun lebih tua), sama-sama pernah
berkecimpung di organisasi yang sama yang memelopori berdirinya tempat
ini. Saya masih ingat ketika waktu itu dia SMS minta pendapat. Sayapun
masih ingat beberapa pekan kemudian dia SMS lagi dengan penuh kekesalan
karena minimnya respon dari masyarakat yang dia harapkan bisa membantu.
Saya bilang, sudah terusin saja, nanti kawan-kawan yang ngebantu.
Dan alhamdulillah, hari ini sedikit yang dia citakan bisa nampak.
Sekedar memberi tempat bagi anak-anak untuk membaca, mencoba membuat
positif kegiatan para pemudanya, memberikan pencerahan lewat membaca,
meski menumbuhkan minat baca dikalangan pedesaaan bukanlah hal yang
mudah. Alhamdulillah jumlah pengunjung makin hari makin banyak, tidak
hanya dari Pekajangan, namun juga dari desa-desa sekitaran. Tiap sore
buka dari ba'da ashar sampai jam 20 dan hampir pasti ada yang mampir,
entah pinjam bawa balik atau sekedar lihat-lihat. Tidak lagi hanya
berebut buku Kupinang Engkau Dengan Hamdalah. Buku yang rasanya juga
berdampak positif bagi Hafiizh karena bulan depan dia akan menikah
dengan muslimah pilihannya...he....he...
Bagi kawan lain yang hendak menyumbang buku atau apapun itu buat Taman Bacaan Masyarakat SAHARA, bisa menghubungi: M.Hafiizh dengan alamat Pekajangan Gg. 11 No. 3 RT 7 RW 3 Kedungwuni Pekalongan 51172 atau lewat saya juga gak keberatan.

Pagi ini tidak berapa lama nyampe kantor, tiba-tiba si Hengky
nglemparin sekantong plastik hitam. Aha, CF SanDisk Ultra II 512
ternyata. Barang yang saya pesan padanya akhir pekan yang lalu.
Alhamdulillah sesuai pesanan dan tepat waktu. Thanks ya Heng...:)
Langsung saja ditancapkan ke PowerShot A75. Emang gurih nih rasanya,
aksesnya lebih kenceng dan kapasitas penyimpanannya bikin gak ragu lagi
untuk melakukan eksplorasi. Saya belum melakukan eksplorasi lebih
dalam, namun sebagai gambaran berikut matrikulasi penyimpanan yang bisa
ditampung:
Ukuran | Kualitas | Kapasitas | Biasanya dipakai
L-2048x1536 | superfine| 308 | -> untuk pemotretan serius
M1-1600x1200 | superfine | 491 | -> serius tapi mepet kapasitas
M1-1600x1200 | fine | 879 | -> serius, tapi sangat mepet
M2-1024x768 | superfine | 855 | -> gak terlalu serius
M2-1024x768 | fine | 1524 | -> pemotretan yg biasa saja
Semoga saja cukup, gak bikin ragu lagi untuk mengambil gambar,
melakukan eksplorasi selama perjalanan yang jauh dari komputer. Kalau
gak cukup juga, masak harus beli yang 1G?

Program kecil hasil kontemplasi mas Mohammad Taufiq. Memunculkan menu
Al-Quran di MS Word untuk menyisipkan ayat dan terjemah alqur'an. Saya
sudah mencobanya di MS Word 2003, saya perlu
me restart komputer untuk memunculkan menunya.
Silahkan saja dicoba, mudah-mudahan bermanfaat. Dan kita doakan mas
Taufiq diberikan pahala yang setimpal dari Allah SWT dengan usahanya
ini. Amin.
File sourcenya bisa didownload disini:
MS Word 2000
MS Word 2002
MS Word 2003
kamu
sudah gila...
ah...kamu
mengada-ada
jepit
terompahmu
menyuarakanmu
gila
tak
membawa kaca
harga
diri manusia
ah...kamu
mengada-ada
kenapa
tak kau pekikkan
hipotesamu
pada mereka
mengaku
berbaju, dada terbuka
mengaku
bercelana, tapak cawat kasat mata
gombal-gambel
kemana-mana
mengobok-obok
birahi manusia
itu olah
pikir peradaban
dan
lagian birahimu saja...
ah...kamu
memang mengada-ada
lebih
suka terkooptasi tampilan muka
tak
terlintas murka adalah kuasaNya
20 Juni
2005
http://dhika.batikkejora.com
Kompleks Iqro', pkl 7.20an pagi...
Puluhan motor berjejer rapi di tanah kosong yang khusus disediakan
sebagai tempat parkir. Pelayat terus berdatangan. Tidak banyak cakap,
kecuali saling jabat dan peluk sembari mata berkaca. Puluhan pelayat
pria telah berjejal di depan pintu Al 'Araf Building tempat jenazah
disemayamkan. Dan terus bertambah. Menanti dengan sabar untuk ikut
menyolatkan jenazah.
Saya bergegas mengambil air wudhu. Dan ikut mengantri, menanti untuk
ikut menyolatkan. Pintu dibuka, pelayat pria dipersilahkan masuk ke
ruangan tempat jenazah disemayamkan. Semua bergegas teratur memenuhi
gedung. Luasnya salah satu bangunan di kompleks Iqro ini seakan tak
mampu menampung pelayat yang berniat menyolatkan. Sebagian mengalah
untuk ikut pada kelompok berikutnya. Saya telah masuk gedung dan berada
di bagian paling belakang. Ustadz Muslich Abdul Karim mengambil tempat
di depan, memimpin sholat jenazah pagi itu. Gemetar suara beliau
mengumandangkan takbir pertama..."Allahu Akbar....". Dan ketiga takbir
berikutnya diiringi dengan isak tangis yang tertahan. Air mata
memburai, seluruh jamaah tak lagi mampu menahan air mata. Isak tangis
terdengar menyanyat memenuhi ruang. Gemetar hati seraya melafaskan
munajat dengan sepenuh hati, dengan tetap berburai air mata. Setelah
takbir keempat, Ustadz Muslich meneruskan dengan do'a singkat, seluruh
jamaah menengadahkan tangan, mengaminkan. Mempersaksikan bahwa jenazah
di depan adalah sosok mulia yang telah menghantarkan kami semua menjadi
seperti ini hari ini. Isak tangis terdengar makin memenuhi ruang. Ya
Rabb....hari ini kami begitu kehilangan.
Jenazah terlihat membujur kaku. Ingin saya cium kening, tapi urung saya
lakukan. Ingin pula saya ambil gambar, namun urung saya lakukan. Hati
terlampau berat dibalut duka. Maafkan saya ustad, hanya linangan air
mata cinta dan untaian doa yang mampu saya panjatkan. Tak mampu
menghantarkanmu ke persemayaman. Terima kasih ustad atas begitu banyak
kebaikan dan teladan yang telah engkau uraikan. Tak akan pernah
terlupa. Tak lagi mampu berkata-kata.
Kelompok kedua dipersilahkan masuk. Kali ini giliran wanita. Dipimpin
oleh Ustd. Mahfudz Siddiq. Begitu terus bergantian, selang seling pria
dan wanita. Dipimpin oleh ustad-ustad yang bersama ustd. Rahmat terus
mencoba menggelindingkan roda dakwah di negeri ini. Tak banyak cakap,
beratur bergantian, menanti dengan penuh sabar. Tak ada lagi kata,
hanya wajah yang tertunduk dibalut duka dan linangan air mata.
Perkantoran Sudirman, ba'da sholat dzuhur, pkl 12.28an...
Langit begitu gelap...
Hujan mengalir deras...
Seakan berduka terhadap sebuah kepergian...
Selamat jalan ustad...
Biarkan pundak ini perih...
Dan tubuh ini letih...
Meneruskan torehan2 citamu...
  

Saya baru saja selesai berwudhu tatkala pengajian
hendak dimulai malam tadi, ketika tiba-tiba ada sms masuk pada HP Ustad
yang mengabarkan bahwa Ustad Rahmat Abdullah telah meninggal dunia di
Rumah Sakit Islam.
Inna lillahi wa inna ilayhi rooji'uun...terasa mata berkaca ketika
melafaskannya. Ustad memutuskan untuk menunda memulai pengajian dan
meminta yang hadir untuk memforward sms tersebut ke kawan-kawan yang
lain. Sayapun memforwardnya ke beberapa kawan. Beberapa reply sms dan
telepon masuk meyakinkan kebenaran berita tersebut seolah tak percaya,
tidak mengherankan karena semua memang terasa begitu cepat dan
mendadak. Terasa durja pengajian, seolah ada semangat yang tercerabut
dari tempatnya mendengar berita duka tersebut.
Ustad Rahmat Abdullah, bukanlah kyai yang sekondang
Aa Gym atau Ustad Arifin Ilham. Meski saya tidak mengenalnya langsung
secara personal, namun melalui tulisan-tulisan (khususnya dalam
Tarbawi) dan perjumpaan diskusi dalam berbagai kesempatan serta
mengamati kegigihannya ketika diamanahkan sebagai Ketua Majlis
Pertimbangan Pusat (MPP) di Partai Keadilan Sejahtera, saya yakin benar
bahwa beliau adalah sosok muslim soleh yang tidak pernah tenang tidur
memikirkan ummat. Sesosok muslim soleh yang mempunyai bashiroh yang
tajam, tiada berhenti memikirkan dan beramal untuk membangkitkan ummat
yang tengah tertidur ini dalam koridor nilai-nilai robbaniyah.
Rasanya belum habis keterkaguman saya pada buku karya beliau yang
terakhir saya baca, Untukmu Kader Dakwah. Buku yang memuat
tulisan-tulisan beliau yang mengurai mengenai Al Arkan Al 'Asyarah.
Tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Tarbawi, namun tetap saja mampu
menghadirkan semangat yang baru. Rasanya baru kemarin saya dengar
ulasan beliau di radio Dakta sabtu pagi. Rasanya baru kemarin beliau
menyerahkan amanah ketua MPP PKS untuk diteruskan oleh Ustad Suharna. Rasanya
juga baru kemarin ketika terakhir saya berjumpa beliau di komplek
Yapidh dalam sebuah kesempatan. Senyum dan dekap salam yang tidak
berubah, tetap bersahaja diiringi ketulusan ucap salam.
"Assalaamu'alaykum". Perjumpaan yang dalam kondisi bagaimanapun
senantiasa menghadirkan ruh semangat dalam diri saya. Nampak gurat
letih dalam rautnya, memikul amanah dakwah yang sungguh tidak ringan,
namun toh tidak pernah keluar keluh dari mulut beliau, pun tidak nampak
dalam vitalitas beliau untuk beramal soleh. Rasanya masih begitu banyak
hal yang perlu kesertaan beliau yang penuh elan vital dalam
menggelindingkan roda dakwah ini, meninggikan kalimatullah.
Malam tadi, Sang Kholik menghendaki lain, memanggil beliau setelah
beberapa saat didahulukan dengan sakit-sakitan dan dikabarkan mengalami
pembengkakan hati. Pemanggilan yang terasa cepat ketika dakwah yang
beliau perjuangkan dengan penuh peluh dan air mata mulai menampakkan
hasilnya. Manusia boleh berharap dan merencanakan, namun kehendak dan
rencana Allah tentu jauh lebih baik dari segalanya.
Selamat jalan guru, bapak, sahabat. Saya yakin bahwa perjumpaan dengan
Allah Sang Penciptamu lebih kau nanti dan harapkan. Begitu tidak
sedikit hal yang telah engkau tutur dan teladankan ke kami. Engkau
telah mencontohkan dengan sangat luar biasa betapa surga hanya mampu
diraih dengan kerja keras berurai air mata, peluh dan darah. Engkau
telah pula mencontohkan betapa amanah dakwah bukanlah sesuatu yang
ringan, harus dipikul dengan kesungguhan hati dan keseriusan berpikir
dan beramal dengan berharap pada kerahiman Allah bagi kita untuk mampu
mengembannya, meneruskan cita-cita muliamu. Kamilah yang akan menjadi
saksi pada hari penghisaban kelak bahwa engkau adalah manusia soleh,
manusia utama yang telah menghadirkan rasa takut dalam diri kami kepada
Allah. Semoga Alah berkenan menempatkanmu dalam tempat yang sebaiknya.
Semoga pula Allah berkenan mengumpulkan kita semua dalam surgaNya
kelak.
Allahummaghfir lahu warhamhu, wa 'aafihi wa'fu 'anhu, wa akrim
nuzulahu, wa wassi' madkhalahu, waghsilhu bil-ma'i watstsalji
wal-baradi.
Pekayon, Rabu dinihari 16 Juni 2005, mata sembab berlinang air mata...
*photo dari http://prajuritkecil.multiply.com

kemarin,
kudapat kabar dari kawan
bocah pemulung tiga tahun mati di keramaian
bapaknya kelimpungan mencarikan kain kafan
dan angkutan buat ke pemakaman
enam ribu perak di tangan
ia tak menemukan jalan
dimana diriku saat kejadian ?
dimana pula dirimu kawan ?
digendongnya jenazah sang anak
dibalut sarung kucel sbg kafan
menuju peristirahatan
dimanakah orang-orang ?
kudengar ini terjadi di keramaian
dimana air mata,
tak lagi punya ruang untuk dicucurkan,
tak lagi ada makna kawan
08.06.2005
http://dhika.batikkejora.com
kenapa kamu tinggalkan?
lagi nakal saja
jawab sekenamu
bisik menanyakan
hati kecilku
tak sadarkah?
luas lautan
tak mampu menorehkan
lebat hutan
tak kuasa menuliskan
air mata al-amin
bercucuran di pangkuan
pada ujung perjumpaan
memikirkan...
kenapa kamu tinggalkan?
lagi nakal saja
jawab sekenamu
bisik menanyakan
hati kecilku
itulah kasih Rabb-mu
genggam sampai akhirmu
kuasakah kamu?
01.06.2005
http://dhika.batikkejora.com

Atas
sponsor dari pemerintah Kabupaten Pekalongan, alhamdulillah Batik Kejora
diberikan kesempatan untuk menjadi peserta dalam Indonesia
Expo 2005 yang diselenggarakan di JHCCC, 25 – 29 Mei 2005. bersama Pirsa Art
(kerajinan akar wangi), Batik Kejora menjadi perwakilan Pemkab Pekalongan dalam
ajang tersebut.
Mari
tengok sebentar mengenai Pirsa Art. Pirsa adalah salah satu pengrajin akar
wangi.
“Akar wangi itu sejenis
akar yang wangi dari alamnya, tumbuhannya seperti alang-alang tapi akarnya
panjang. Biasanya banyak tumbuh di dataran tinggi” begitu kata kang Imron.
maap, untuk kelanjutannya, silahken ke:
http://dhika.batikkejora.com

Saya patut bersyukur karena diizinkan Allah untuk bisa tinggal
(sementara) di perumahan Kemang Pratama, Bekasi. Perumahan yang cukup
teduh dan rindang, bersih dan rapi, tertib dan fasilitas yang
(relatif) komplit. Bertetangga dengan seorang pejabat kejaksaan yang
menjadikan empat rumah jadi satu lengkap dengan satpamnya dan juga
bertetangga dengan pak walikota bekasi. Entah mengapa mesti saya
sebutkan, padahal tidak ada benefit apapun bertetangga dengan pejabat,
selain saya harus siap sedikit menyingkir dari jalan perumahan yang
tengah saya lalui, dihalau oleh patroli pengawal yang rotatornya
menyilaukan mata serta memekakkan telinga. Rasanya saya perlu
bersilaturahim dengan tetangga-tetangga ini, menyakan kenapa mereka
harus berbuat demikian ketika di jalan. Dan yang lebih pasti, semua
yang saya sebutkan belum mampu menghilangkan stigma sebuah perumahan
pada umumnya, individualistik. Dan tentu beberapa point kenyamanan tadi
harus ditebus dengan operational cost yang relatif tidak rendah buat
saya yang tinggal sendirian. Kata relative harus seringkali saya ulang,
karena ia adalah tinggi bagi saya, namun belum tentu bagi kebanyakan
warga lain.
maap, untuk baca kelanjutannya, silahken ke
http://dhika.batikkejora.com/more.php?id=27_0_1_0_M
| |